Seseorang
yang berpegang teguh pada Al Qur’an, sebagai modal kekuatan pegangan dan
landasan filsafat hidup maka orang itu akan mampu tegar, tidak gampang
menyerah, sigap dalam menentukan sikap, dan tidak akan mudah diombang-ambingkan
oleh ketidakpastian situasi, tidak mudah terpengaruh oleh prinsip hidup lain,
hal itu karena prinsip dalam kepribadiannya sudah mantap dan semua itu akan
tercermin dalam sikapnya dalam menyelesaikan persoalan hidup Alangkah indahnya
hidup kita, bila kita tidak hanya sekedar bisa membaca Al Quran, tetapi juga
menghafalnya dan mengamalkannya. Banyak hadits Rasulullah Saw yang mendorong
untuk menghafal Al Qur’an atau membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang
individu muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah Swt.
Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas “Orang yang tidak
mempunyai hafalan Al Qur’an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau
runtuh (HR. Tirmidzi)
Dari
Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Sawbersabda: “Penghafal Al Quran akan
datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata: Wahai Tuhanku,
bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al
Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu diapakaikan
jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku ridhailah dia,
maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan
teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah menambahkan dari setiap ayat
yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan” (HR. Tirmidzi, hadits hasan
{2916}, Inu Khuzaimah, Al Hakim, ia menilainya hadits shahih)
Berikut
adalah Fadhail Hifzhul Qur’an (Keutamaan menghafal Qur’an):
- Al
Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi penghafal .Dari Abi Umamah ra. ia
berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah olehmu Al Qur’an,
sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para
pembacanya (penghafalnya).”" (HR. Muslim)
-Nabi
Saw memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin
delegasi. Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah
delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka,
kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah
pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau
hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al Baqarah.”
Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab,
“Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR.
At-Turmudzi dan An-Nasa’i).
-Nikmat
mampu menghafal Al Qur’an sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak
mendapatkan wahyu, “Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Quran, maka sungguh
dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan padanya.”
(HR. Hakim)
-Seorang
hafizh Al Qur’an adalah orang yang mendapatkan Tasyrif nabawi (Penghargaan
khusus dari Nabi Saw). Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW
kepada para sahabat penghafal Al Qur’an adalah perhatian yang khusus kepada
para syuhada Uhud yang hafizh Al
Qur’an.
Rasul mendahulukan pemakamannya. “Adalah Nabi mengumpulkan diantara orang
syuhada uhud, kemudian beliau bersabda, :Manakah diantara keduanya yang lebih
banyak hafal Al Quran, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliu
mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari)
-Hafizh
Qur’an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi. “Sesungguhnya Allah
mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka
ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah
dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)
-Siapa
yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan
mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan
kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah
didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?”
Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al
Qur’an.” (HR. Al-Hakim)
-“Dan
perumpamaan orang yang membaca Al Qur’an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya
bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Muttafaqun alaih)
-Dari
Abdillah bin Amr bin ‘Ash dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Akan dikatakan
kepada shahib Al Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana
engkau dulu mentartilkan Al Qur’an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir
ayat yang kau baca.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi)
-Kepada
hafizh Al Qur’an, Rasul SAW menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama’ah.
Rasulullah SAW bersabda, “Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling
banyak hafalannya.” (HR. Muslim)
“Barangsiapa
yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu hasanah, dan hasanah
itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu
satu huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.”
(HR. At Turmudzi).
-Bahkan
Allah membolehkan seseorang memiliki rasa iri terhadap para ahlul Qur’an,
“Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan
seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al Qur’an kemudian ia membacanya
sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian
ia berkata, ‘Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku
dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat’” (HR. Bukhari)
Sumber:
http://jalandakwahbersama.wordpress.com